Memuat Halaman...

Indonesia Luncurkan Empat Proyek Perdagangan Karbon Perdana Senilai Rp5 Triliun

07 Jul 2026
Admin SMK
Indonesia Luncurkan Empat Proyek Perdagangan Karbon Perdana Senilai Rp5 Triliun

JAKARTA - Pemerintah Indonesia resmi memulai implementasi perdagangan karbon sektor kehutanan global melalui peluncuran skema Non Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (Non SPE-GRK), Senin (06/07).

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa langkah ini merupakan bukti konkret pemerintah dalam beralih dari sekadar wacana menuju aksi iklim yang nyata.

"Kepada yang telah siap nanti diregistrasi dan didagangkan supaya tidak omon-omon (bual) saja, jadi bisa langsung ada yang konkret kita dagangkan," ujar Raja Juli dalam peluncuran di Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta.

Potensi ekonomi dari pengelolaan karbon yang akuntabel dan transparan ini diperkirakan mampu mencapai Rp5 triliun, dengan target pasar korporasi internasional.

Dampak dan Cakupan Proyek

Berbeda dengan inisiatif sebelumnya yang didominasi oleh korporasi besar, proyek perdana ini mencakup sektor yang menyentuh masyarakat bawah:

*      Tiga proyek di kawasan Pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

*      Satu proyek berbasis Perhutanan Sosial.

*      Ekspansi kawasan, yang kini merambah zona konservasi seperti Taman Nasional Way Kambas.

Kementerian Kehutanan menyatakan perluasan ini sengaja dirancang agar keuntungan finansial dari kredit karbon dapat dirasakan langsung oleh komunitas lokal dan masyarakat adat, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Dorongan Politik dan Standar Global

Menhut Raja Juli menyebut percepatan regulasi ini berhasil dieksekusi berkat kepemimpinan kuat Presiden Prabowo dalam mendorong ekonomi hijau. "Yang dulu hanya khayalan sekarang bisa menjadi konkret," tambahnya.

Meski demikian, tantangan utama Indonesia kini berada pada aspek kredibilitas. Menanggapi kekhawatiran global terkait greenwashing (pencitraan hijau palsu), pemerintah mengeklaim tengah menyiapkan sistem pengawasan ketat.

"Perdagangan karbon yang berintegritas hanya bisa dilakukan kalau kita melibatkan berbagai stakeholder," kata Raja Juli, menekankan bahwa standar tinggi diperlukan agar unit karbon Indonesia diakui secara internasional.

Peluncuran strategis ini turut dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo, Menko Pangan Zulkifli Hasan, serta jajaran diplomat asing dan perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saat ini, pemerintah dilaporkan tengah berada dalam tahap komunikasi intensif dengan puluhan perusahaan global yang membidik Indonesia sebagai pusat pasar karbon dunia.